Apa Itu CBT dalam Psikologi? Apa Manfaatnya Untuk Kita


Home » Blog » Apa Itu CBT dalam Psikologi? Apa Manfaatnya Untuk Kita

Terapi kognitif perilaku, atau orang sering menyebutnya sebagai CBT (cognitive behavioral therapy) dari sering digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Namun, tidak hanya terbatas pada itu, terapi ini juga dapat membantu kita dalam menghadapi tantangan sehari-hari. Berikut ini adalah CBT dalam psikologi.

Terapi kognitif perilaku, adalah salah satu bentuk psikoterapi yang populer. Terapi ini bertujuan untuk melatih pola pikir (fungsi kognitif) dan cara bertindak (perilaku) Anda. Inilah mengapa terapi ini lebih dikenal sebagai terapi kognitif perilaku. Menurut para ahli psikologi CBT merupakan versi berbeda dari Psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud.

Baca juga : 5 Jalan Disiplin Ala Miyamoto Mushashi

cbt dalam psikologi

Mengenal Lebih Dalam CBT Dalam Psikologi

Sejarah CBT

Melansir dari duniapsikologi.com, terapi Cognitive Behavior dikembangkan oleh sejumlah ahli, termasuk Albert Ellis, Aaron T. Beck, Donald Meichenbaum, dan Arnold Lazarus, dengan kontribusi tambahan dari Michael Mahoney, Vittorio Guidano, dan Giovanni Liotti.

Rational Emotive Therapy (RET), yang dipelopori oleh Albert Ellis, adalah salah satu bentuk awal terapi Cognitive Behavior. Ellis, yang lahir di Pittsburgh pada tahun 1913, memperkenalkan RET di New York. Pada awalnya, metode ini kurang diterima karena dianggap tidak menghargai emosi klien. Namun, dengan integrasi unsur kognitif seperti restrukturisasi fungsi kognitif dan pemecahan masalah, RET mulai diakui dan digunakan dalam psikoterapi.

Prinsip dasar RET adalah membantu klien mengatasi emosi negatif dengan mengguncang pola pikir irasional dan mengembangkan pola pikir rasional. Terapi ini melatih klien untuk mempelajari cara yang lebih efektif dalam menghadapi masalah emosional mereka. Dengan menempatkan kondisi emosional dalam kerangka berpikir yang rasional, diharapkan klien dapat menunjukkan perilaku yang lebih rasional, mengurangi bahkan menyembuhkan gangguan emosional mereka.

Ellis berargumen bahwa manusia cenderung berbicara kepada diri sendiri dan menjadi defensif. Masalah emosi dan perilaku muncul ketika seseorang melihat kebutuhan akan cinta, pengakuan, atau keberhasilan sebagai keharusan mutlak. Pola pikir seperti “harus”, “mesti”, dan “berhak” dapat membuat seseorang menjadi dogmatis dan irasional, yang pada gilirannya menimbulkan gangguan perasaan dan perilaku.

Terapi cognitive behavior berfokus pada proses belajar untuk mengatasi pola pikir irasional, mengembangkan pemikiran rasional, dan meningkatkan keterampilan pemecahan masalah untuk membantu klien mengatasi gangguan emosional dan perilaku.

Baca juga : Berani bersaing dengan membangun tiga kunci ini

3 Tahapan Penting Dalam CBT

Di dalam sebuah hubungan konseling, melansir dari laman psikologi today, paling tidak ada tiga percakapan yang terjadi, yakni percakapan publik ditambah private self talk antara konselor dan klien.

Proses terapi terdiri dari kegiatan melatih klien untuk merubah instruksi yang diberikan kepada diri mereka sendiri agar mereka mau mengatasi masalah secara lebih efektif.

Meichenbaum mengajukan bahwa perubahan tingkah laku terjadi dalam beberapa tahap, melalui interaksi dengan diri sendiri, perubahan struktur kognitif, perubahan tingkah laku, dan bukti dampak terapi terhadap gangguan. Ia menggambarkan proses 3 tahap CBM sebagai berikut:

 Observasi dengan diri kita sendiri

Yang pertama, diawal terapi, klien diminta untuk mendengarkan dialog internal dalam diri mereka dan mengenali karakteristik pernyataan negatif yang ada. Proses ini melibatkan kegiatan meningkatkan sensitivitas terhadap pikiran, perasaan, perbuatan, reaksi fisiologis terhadap orang lain.

Baca juga : Menerima diri sendiri untuk tumbuh menjadi lebih baik lagi

Membangun Dialog Internal yang Adaptif untuk Perubahan Perilaku

Yang ke-2 membuat dialog internal baru Klien belajar untuk mengenali tingkah laku menyimpangnya, mereka mulai mencari kesempatan untuk mengembangkan alternatif tingkah laku adaptif (tingkah laku yang tidak menyimpang), dengan cara merubah dialog internal dalam diri mereka. Dialog internal yang baru diharapkan dapat menghasilkan tingkah laku baru, yang sebaliknya akan memberikan dampak terhadap struktur kognisi klien.

Menguasai Keterampilan Baru untuk Mengatasi Masalah Sehari-hari

Belajar ketrampilan baru Klien kemudian belajar teknik mengatasi masalah yang secara praktis dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang sama, klien diharapkan untuk tetap memusatkan perhatian kepada tugas membuat pernyataan baru dan mengamati perbedaan hasilnya.

cbt dalam psikologi

Manfaat menggunakan CBT

Melansir dari laman kitasehat, terapi kognitif perilaku CBT digunakan untuk membantu penderita gangguan kesehatan mental untuk mengubah sudut pandang akan permasalahan atau situasi menantang dalam hidupnya, sekaligus cara ia bereaksi terhadap permasalahan tersebut.

Selain itu, terapi kognitif perilaku juga bisa dilakukan untuk membantu penderita mencari pendekatan dan solusi masalah yang terjadi secara mandiri. Tidak hanya untuk gangguan kecemasan dan depresi, terapi kognitif perilaku juga terbukti efektif dalam menangani gangguan kesehatan mental lainnya, seperti :

  • Fobia
  • Gangguan pola makan
  • Gangguan tidur
  • Penyalahgunaan alkohol
  • Gangguan panik
  • Gangguan seksual
  • Gangguan bipolar
  • Skizofrenia
  • Obsessive compulsive disorder (OCD)
  • Post-traumatic stress disorder (PTSD)
  • Kleptomania

Selain gangguan kesehatan mental, penyakit fisik yang terkait dengan tingkat stres atau kondisi psikologis, seperti irritable bowel syndrome (IBS)juga bisa menggunakan terapi kognitif perilaku sebagai salah satu metode pengobatannya.

Kesimpulan dari CBT dan penggunaanya

Konsep dari terapi kognitif perilaku adalah bahwa pikiran, perasaan, sensasi fisik, dan tindakan kita saling berkaitan dan memengaruhi satu dengan lainnya. Pikiran dan perasaan negatif dapat membuat kita terjebak dalam pola negatif permasalahan yang terasa semakin berat.

Hal ini kemudian dapat mengubah cara berpikir kita, berperilaku, dan bahkan menyebabkan keluhan fisik. Terapi kognitif perilaku bisa membantu kita mengolah pikiran dan perasaan negatif tersebut. Pada terapi ini, kita akan dibantu untuk:

1. Mengidentifikasi masalah

Langkah pertama yang paling penting dalam terapi perilaku kognitif adalah menyadari dan menerima bahwa kita memiliki masalah. Seorang terapis akan membantu kita untuk mengidentifikasi masalah, sekaligus akar permasalahan tersebut.

Masalah dalam kehidupan seseorang bisa disebabkan oleh masalah lain yang bahkan tidak disadari oleh dirinya sendiri. Terapis juga akan membantu kita mencari penyebab paling dasar dari perasaan negatif atau pola destruktif yang terjadi.

2. Fokus pada pencarian solusi.

Terapi kognitif perilaku membantu kita memecahkan masalah yang besar menjadi masalah-masalah kecil yang bisa dihadapi satu per satu dan perlahan-lahan, sehingga terasa ringan.

3. Mencari cara praktis yang bisa memperbaiki cara pikir kita setiap harinya

Setelah membantu menyederhanakan masalah kita, terapis akan mulai menggiring kita untuk belajar melihat kaitan antara satu masalah dengan masalah lainnya, serta efek dari masing-masing masalah tersebut pada diri kita.

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengubah cara kita memandang dan menanggapi sebuah masalah. Meski sederhana, ini bisa sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah dan membuat kita memiliki sifat yang lebih positif.

Selain itu, kita juga akan dibantu untuk fokus pada masalah yang ada sekarang, bukan yang ada di masa lalu ataupun yang mungkin ada di masa depan.

4. Mendorong kita melatih dan mempraktikkan kebiasaan positif

Jika kita sudah mampu menyadari, menerima, menyederhanakan, dan memahami masalah kita secara menyeluruh, tahap selanjutnya adalah menghilangkan cara lama kita yang destruktif dalam merespons masalah tersebut. Terapis akan membantu kita mempelajari dan mempraktikkan langkah dalam merespons suatu masalah dengan positif dan tidak membebani diri kita.

Setelah beberapa sesi, terapis akan membahas kembali langkah-langkah yang telah dilakukan dalam terapi kognitif perilaku. Tujuannya adalah untuk melihat apakah metode yang telah dijalankan bisa memberikan manfaat bagi kita. Hal ini dilakukan untuk menemukan cara terbaik yang bisa diaplikasikan dalam hidup kita.

Terapi kognitif perilaku memang bisa digunakan untuk mengelola masalah yang berhubungan dengan pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Namun, terapi ini belum tentu cocok untuk semua orang.

Selain itu, terapi ini memerlukan kerja sama yang bagus dengan terapis dan komitmen yang kuat dari penderita untuk bisa mencapai hasil terbaik. Jika ini terjaga, periode terapi bisa lebih singkat.

Selama menjalani terapi ini, kita dianjurkan untuk bersikap terbuka dan jujur, terutama ketika melakukan konsultasi pertama, agar terapis dapat menemukan pendekatan dan terapi yang sesuai dengan kondisi kita.

Follow our social media :

Author : Mahesri