5 Jalan Disiplin Ala Miyamoto Musashi


Home » Blog » 5 Jalan Disiplin Ala Miyamoto Musashi

Miyamoto Musashi adalah seorang pendekar pedang dan rōnin Jepang yang hidup pada awal periode Edo. Ia dianggap sebagai salah satu pendekar pedang paling terampil dalam sejarah Jepang dan terkenal karena prestasinya dalam seni kenjutsu (teknik berpedang). Musashi tidak hanya ahli dalam berpedang, tetapi juga seorang Buddhis dan filsuf. Disiplin yang diterapkan Musashi sudah menginspirasi dan diterapkan selama berabad-abad setelah kematiannya.

Baca juga : Cara meningkatkan fokus yang efektif

Hidup diera moderen seperti sekarang ini kita seolah mendapatkan privilege dalam kemudahan untuk mendapatkan informasi. Semua seolah sudah tersaji didalam ponsel kita. Dalam kemudahan mendapatkan informasi tersebut disatu sisi juga memudahkan fokus kita teralih dan menganggu kedisiplinan kita. Mungkin jika kita melihat perbedaan waktu antara era Musashi dengan era kita, bukanlah apel to apel untuk di bandingkan. Namun jika kita melihat nama besarnya tak lekang oleh waktu, apakah kedisplinan yang diterapkan Miyamoto Musashi masih relevan jika terapkan diera sekarang ini? Yuk kita simak berikut ini.

5 cara menciptakan disiplin ala Musashi

1. Terima Keadaan Apa Adanya

Mungkin menerima segala sesuatu dengan apa adanya adalah hal yang sulit. Karena hal ini bertentangan dengan kecenderungan alami kita untuk menolak perubahan dan mencoba mengendalikan keadaan. Ketika kita menolak momen saat ini dan mencoba mengubah hal-hal yang berada di luar kendali kita, sering kali kita malah menyebabkan stres dan penderitaan pada diri kita sendiri. Kita mungkin menjadi frustrasi dan marah ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan kita, dan justru kita mungkin membuang-buang energi dan waktu untuk mencoba memaksakan hasil yang berbeda.

Di sisi lain, ketika kita menerima segala sesuatu sebagaimana adanya, kita bisa melepaskan semua keluh kesah dan menemukan rasa damai. Kita dapat menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini sudah seharusnya terjadi, dan kita dapat memilih untuk menanggapinya dengan cara yang positif dan konstruktif. Hal ini tidak berarti kita tidak mengambil tindakan untuk atas apa yang terjadi dan memperbaiki keadaan tersebut. Atau setidaknya kita mencoba membawa perubahan untuk keadaan itu. Namun ini berarti bahwa kita dapat melakukannya tanpa terikat pada bayang-banyang hasil tertentu. Sehingga kita dapat melakukan pekerjaan atau kegiatan yang kita lakukan sepenuh hati dan nothing to lose.

Baca juga : Pentingnya berfikir fleksible dalam segala keadaan

disiplin musashi

Pepatah mengatakan :

“Semakin kita mencoba mengubah sesuatu, semakin mereka menolak perubahan. Semakin kita mencoba untuk mempertahankan sesuatu, semakin banyak hal itu lolos dari genggaman kita. Semakin kita mencoba untuk memahami sesuatu, semakin banyak hal tersebut luput dari genggaman kita. Semakin kita mencoba untuk memahami sesuatu, semakin mereka menolak untuk masuk akal. Jadi orang bijak hanya mengikuti arus, menerima segala sesuatunya apa adanya, dan memanfaatkannya sebaik mungkin.” —Dan Millman

Ketika kita terus-menerus berusaha mengubah keadaan, kita mungkin terlalu fokus pada masa depan atau masa lalu sehingga tidak dapat sepenuhnya menikmati momen saat ini. Dengan menerima segala sesuatu sebagaimana adanya, kita dapat melepaskan gangguan-gangguan ini dan lebih hadir di sini dan saat ini. Hal terbaik untuk dicoba diubah adalah pikiran kita, bukan lingkungan eksternal, yang berada di luar kendali kita.

2. Disiplin Musashi ke-2 adalah Mencoba Terpisah dari Keinginan Sepanjang Hidup Kita

Salah satu cara untuk memahami manfaat melepaskan diri dari keinginan adalah dengan mempertimbangkan alternatifnya. Ketika kita terlalu terikat pada hasil atau harta benda tertentu, kita mungkin menjadi cemas dan stres ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan kita atau ketika kita tidak mampu memperoleh hal-hal yang kita inginkan. Kita mungkin juga menjadi terikat pada gagasan kesuksesan atau pencapaian dan merasakan kekecewaan atau kegagalan ketika kita tidak memenuhi harapan kita sendiri atau harapan orang lain.

Sidarta Gotama mengatakan :

“Meskipun seseorang dapat menaklukkan seribu kali seribu orang dalam pertempuran, namun pemenang paling mulia dialah yang menaklukkan dirinya sendiri.”

Di sisi lain, saat ketika kita terlepas dari nafsu, kita bisa melepaskan keterikatan ini dan menemukan rasa damai dan puas pada saat ini. Kita dapat menyadari bahwa kebahagiaan kita tidak bergantung pada keadaan atau harta benda eksternal dan bahwa kita mempunyai kemampuan untuk menemukan kegembiraan dan kepuasan dalam diri kita sendiri.

Manfaat lain dari keterpisahan dari keinginan adalah memungkinkan kita untuk lebih hadir dan sadar. Ketika kita terus-menerus mengejar keinginan kita, kita mungkin terlalu fokus pada masa depan atau masa lalu. Ketidak hadiran kita membuat kita tidak dapat sepenuhnya menikmati momen saat ini. Dengan melepaskan keterikatan, kita bisa lebih hadir dan sadar, serta kita bisa menemukan rasa damai dan penerimaan pada saat ini.

disiplin musashi

3. Jangan Menyesali Apa Yang Sudah Terjadi

Penyesalan adalah emosi alami manusia yang kita semua pasti pernah mengalaminya ada suatu saat dalam hidup kita. Penyesalan umumnya muncul saat ketika kita menyadari bahwa kita sudah melakukan kesalahan atas apa yang telah berlalu. Meskipun kadang-kadang merasa menyesal adalah hal yang wajar, penting untuk diingat bahwa terus mengingat kesalahan masa lalu dapat membahayakan kesejahteraan kita. Penyesalan juga menghalangi kita untuk bergerak maju secara positif dan konstruktif.

“Tidak ada gunanya menyesali masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan. Satu-satunya waktu yang penting adalah saat ini, dan Anda harus fokus untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.” – Tidak dikenal

Penting juga untuk diingat bahwa kita semua adalah manusia dan melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Kita tidak bisa kembali dan mengubah masa lalu, tapi kita bisa belajar dari kesalahan kita dan menggunakannya sebagai peluang untuk tumbuh dan menjadi orang yang lebih baik.

Ringkasnya, meskipun terkadang mengalami penyesalan adalah hal yang wajar, penting untuk diingat bahwa terus mengingat kesalahan masa lalu bisa berbahaya. Dengan mengambil tanggung jawab atas tindakan kita, fokus pada momen saat ini. Serta menggunakan penyesalan sebagai katalisator perubahan positif, kita bisa melepaskan penyesalan dan melangkah maju ke arah yang positif.

4. Jangan Terikat Pada Seseorang Yang Telah Pergi

Perpisahan adalah bagian hidup yang tidak bisa dihindari. Perpisahan bisa menjadi pengalaman yang sulit dan menyakitkan, baik itu perpisahan orang yang dicintai karena jarak atau berakhirnya suatu hubungan. Merasakan kesedihan dan kepedihan dalam situasi ini adalah hal yang wajar, dan penting bagi kita untuk membiarkan diri kita merasakan emosi tersebut dan memprosesnya dengan cara yang sehat. Namun, penting juga untuk diingat bahwa perpisahan adalah bagian alami dari kehidupan. Kita juga tidak bleh lupa sebagai manusia kita memiliki kekuatan serta ketahanan dalam menghadapinya.

“Selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan matanya. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tidak ada yang namanya perpisahan.” — Rumi

Orang datang dan pergi dalam hidup kita, cepat atau lambat orang -orang terdekat kita akan pergi. Oleh karena itu, kita tidak boleh bersedih atas hal yang tidak dapat dihindari.

5. Jalan Disiplin Musashi Terakhir Adalah Pikirkan Diri Kita dan dunia Secara Mendalam

Gagasan untuk merasa rendah diri dan memikirkan dunia secara mendalam menunjukkan bahwa kita harus memupuk rasa rendah hati. Serta kita harus memiliki rasa ingin tahu dan fokus pada pemahaman dan perbaikan dunia di sekitar kita. Ini bisa menjadi praktik berharga yang dapat memberikan tujuan dan makna dalam hidup kita yang lebih dalam untuk hidup yang singkat ini.

Ketika kita terlalu fokus pada diri sendiri hal ini mungkin akan berakhir buruk, karena kita mungkin menjadi egois dan penyendiri. Kita disatu sisi, kita juga seolah kehilangan kekayaan dan kompleksitas dunia di sekitar kita. Kita akan terikat pada pendapat dan keyakinan kita sendiri. Efek negatif lainnya adalah mungkin kita akan enggan belajar dari orang lain atau mengeksplorasi ide-ide baru.

“Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak pula hal yang tidak kita ketahui. Semakin banyak seseorang belajar, semakin dia menyadari betapa sedikitnya yang telah dia pelajari.” — Konfusius

Di sisi lain, ketika kita merasa rendah diri dan memikirkan dunia secara mendalam, kita dapat menumbuhkan rasa rendah hati dan keterbukaan terhadap ide-ide dan perspektif baru. Kita dapat menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui dan selalu ada lebih banyak hal yang perlu dipelajari dan ditemukan. Dengan berfokus pada pemahaman dan perbaikan dunia di sekitar kita, kita bisa

Follow our social media :

Author : Mahesri