PASSION SAJA NGGAK CUKUP


Home » Blog » PASSION SAJA NGGAK CUKUP

passion

Disini kita akan memebahas tentang penting atau tidaknya bekerja sesuai dengan passion.

Saat ini, ketika pandemi tentunya kamu tidak bisa idealis, tapi harus dinamis dalam menyesuaikan kondisi kehidupan.

Ada kisah di balik kehidupan seorang lelaki, yang saya sebut sebagai Guru hebat.

Sejak usia 5 tahun Beliau di tinggalkan oleh kedua orang tuanya, mau tidak mau Guru kecil ini harus tinggal bersama kakeknya didesa. Kehidupan bersama kakeknya, bukanlah kehidupan yang mudah, kakeknya adalah seorang pria yang keras dan kasar. Keinginan Guru kecil untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman pupus sudah, Guru kecil ini beberapa kali mendapatkan pukulan akibat kemarahan dari kakeknya. Terkadang kesalahan-kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar, dan Guru kecilpun harus siap mendapatkan pukulan dari sang kakek yang bisa datang kepadanya setiap saat. Meskipun Guru kecil sering berontak namun tidak merubah kondisinya. Suatu saat ketika Guru kecil berada pada pendidikan menengah atas, sang kakek mengusirnya dari rumah karena kesalahan yang tidak diperbuatnya. Guru kecil akhirnya hidup menggelandang dan tinggal dari satu masjid ke masjid lainnya.

Guru kecil menyadari bahwa pendidikan adalah suatu hal yang penting, sehingga meskipun hidup menggelandang Guru kecil tetap bersekolah dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dengan pekerjaan-pekerjaan seadanya. Sering kali dia menerima pekerjaan sebagai kuli bangunan, hanya untuk mendapatkan beberapa ribu rupiah yang saat itu sangat berarti baginya. Guru kecil tetap bersyukur atas kehidupannya, saat itu bisa bersekolah dan makan kenyang saja hidupnya sudah bahagia.

Ketika datang sebuah tawaran pekerjaan sebagai seorang sales, Guru kecil merasa beruntung, karena pekerjaan ini bisa membawanya pada kehidupan yang lebih baik, tetapi Guru kecil menyadari bahwa dia adalah seorang introvert, pendiam dan kaku. Meskipun dengan pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya, Guru kecil ini akhirnya menerima tawaran pekerjaan sebagai sales ini meskipun dia tetap ingin melanjutkan cita-citanya sebagai seorang dokter.

Pekerjaan sebagai seorang sales ini pun mulai ia kerjakan, seringkali tubuhnya gemetar dan jantungnya, berdegub kencang ketika menemui dan berbicara dengan pembelinya, langkahnya berat karena ia harus menjalani suatu hal yang bukan menjadi keinginannya. Angan-anganya untuk menggunakan jas putih dan dengan stetoskp yang mengantung dilehernya sangat kuat, hingga suatu saat dia menyadari bahwa kebutuhan hidupnya jauh lebih penting, kebutuhan akan tempat tinggal, kehidupan yang layak serta pendidikan harus menjadi prioritas utamanya. Perlahan-lahan Guru kecil mulai mencintai pekerjaanya, pemahaman akan alasan dari sebuah kesuksesan mulai berubah, Guru kecil menyadari terkadang passion saja tidak cukup untuk untuk meraih kesuksesan, butuh dorongan yang lebih kuat seperti pemenuhan kebutuhan kesuksesan.

Berangkat dari pemahaman barunya, Guru kecil mulai tertarik untuk menjadi seorang sales, dia mempelajari dan mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada para seniornya, bagaimana cara berjualan yang baik dan mengolah emosinya supaya menjadi lebih stabil. Perjuangannya ini akhirnya membuahkan hasil, Guru kecil layak dan menyelesaikan pendidikannya hingga S2, tak tanggung-tanggung Guru kecil mendapatkan dua magister yaitu M.Psi dan M.M. dalam usia yang relatif muda.

Saat ini Guru kecil menjadi salah satu Publik Figure yang di kenal banyak orang. Beliau menjadi penasihat dari beberapa pejabat dan berkarir dalam bidang self development.

Pelajaran yang kita bisa ambil dari kisah Guru kecil ini adalah. Idealisme tidak selalu mendatangkan kesuksesan, terkadang kita dihadapkan pada suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Bekerja tidak harus selalu mengikuti passion yang kita miliki, bekerja akan lebih baik ketika kita mampu menyesuaikan dan memposisikan diri dengan tepat.

Author : Kak Adhi